Minggu, 15 Februari 2009

Reformasi Moral

Reformasi Moral  

Oleh ANANG FADHILAH 

Kehidupan kita sekarang ini persis seperti yang digambarkan pujangga dari Jawa, Ronggo Warsito. Katanya, zaman saiki zaman edan. Lek ra melu edan ra keduman (zaman sekarang adalah zaman gila. Kalau tidak ikut gila tidak dapat bagian). 
Berbagai persoalan yang membelit kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seringkali lebih disebabkan oleh tidak adanya kerelaan untuk berbagi, kerelaan untuk berkorban kepada sesama, rasa kesetiakawanan mulai redup--bisa jadi sudah hilang. 
Kita lebih senang mengedepankan ananiyah atau egoisme. Kita lebih suka menuntut hak daripada menunaikan kewajiban. Kita masih suka bicara lantang mengkritik orang lain tapi lupa pada perilaku diri sendiri. Kita jarang mau introspeksi. Kita lebih sering munafik: Menuntut standar tinggi kepada orang lain sementara untuk diri sendiri memasang standar rendah.
Tidak percaya? Cobalah perhatikan dari hal-hal yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Berlalu lintas di jalan raya, misalnya. Setiap pengendara di jalan raya, entah itu kendaraan pribadi--termasuk sepeda motor--ataupun kendaraan umum tentu mempunyai kepentingan yang sama. Yakni segera tiba di tempat tujuan. Namun, apa yang terjadi? 
Hampir setiap pengendara menjadi tidak sabaran. Begitu melihat celah di samping kanan atau kiri, meskipun bukan jalurnya, langsung mereka serobot. Atau melaju kencang di jalur lambat atau bahkan di bahu jalan. Akibatnya bisa ditebak. Selain menimbulkan kemacetan panjang, bisa juga membahayakan pengendara lain. Padahal orang lain pun ingin cepat sampai tujuan.
Perilaku kita di jalan raya yang sering hanya mementingkan diri sendiri itu hanyalah satu contoh kecil. Contoh lainnya tentulah sangat banyak dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk perilaku korupsi, suap-menyuap, dan jegal-menjegal kawan maupun lawan, baik di dunia bisnis, sosial, ataupun politik.
Allah SWT dalam beberapa firman-Nya menyebutkan di antara sebab-sebab yang mempengaruhi kejayaan dan kehancuran kehidupan kita adalah perilaku moral kita. Dalam surat Al-A'raf (7) ayat 96, Allah SWT menegaskan akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi kepada perilaku bangsa yang beriman dan bertakwa, ''Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.''
Dalam surat Maryam (19) ayat 59, Allah SWT juga menyebutkan sebab hancurnya sebuah generasi adalah karena mereka melalaikan shalat dan mengikuti hawa nafsu, ''Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.''
Begitu juga dalam surat Al-Anfal ayat 53-54 di mana Allah SWT mencabut anugerah kenikmatan suatu bangsa karena bangsa tersebut sudah menjadi seperti Fir'aun, ''(siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang sebelumnya. 
Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya, maka Kami membinasakan mereka disebabkan dosa-dosanya, dan Kami tenggelamkan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya dan kesemuanya adalah orang-orang yang dzalim.'' (QS Al-Anfal [8]:53-54). Bangsa kita, sekarang sedang dilanda berbagai musibah dan krisis yang tiada henti. Padahal, dulunya bangsa ini adalah bangsa yang makmur, gemah ripah loh jinawi. 
Bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan kemerosotan dan kemunduran bangsa ini adalah karena moral kita yang sudah tidak sesuai dengan tuntunan ajaran agama. Kita sudah tidak mempedulikan lagi perintah dan larangan agama. Kita sudah menjadi budak hawa nafsu yang siap melakukan apa saja demi mengejar dunia dan popularitas. Kiranya, sudah saatnya bagi kita untuk mengubah berbagai musibah menjadi kenikmatan. *

















Karena itu, hadirnya Idul Adha atau yang lazim juga disebut sebagai Hari Raya Kurban pada beberapa hari mendatang, harus dimaknai sebagai peringatan kepada kita. Peringatan agar kita ringan tangan untuk berkurban.

Secara agama, pada Idul Adha kita memang diperintahkan untuk menyembelih kambing (domba) atau sapi dan binatang sejenisnya. Daging dari hewan-hewan sembelihan itu kemudian dibagikan kepada fakir miskin. Perintah untuk menyembelih hewan itu bisa bermakna banyak hal. Antara lain menyembelih atau membuang sifat-sifat kebinatangan yang ada pada kita: Egoisme dan mementingkan diri sendiri, tidak tahu aturan, dan sifat-sifat buruk lainnya. Sedangkan membagikan daging hewan-hewan sembelihan mempunyai arti agar kita saling menolong, saling mengasihi, yang kaya membantu yang miskin, dan begitu selanjutnya.

Lantaran itu, menjelang Idul Adha ini marilah kita mempersiapkan diri untuk berkurban. Yang mampu dan mau menyembelih kambing atau sapi dan binatang sejenisnya tentu sangat mulia. Namun, bagi yang tak mampu dan tidak mau, janganlah Hari Raya Kurban itu lewat tanpa makna.

Makna itu adalah kerelaan berkurban untuk orang lain. Ini artinya menahan diri untuk tidak mementingkan diri sendiri seperti yang terlihat dalam perilaku kita di jalan raya tadi. Kita rela untuk tidak menonjolkan sikap ananiyah atau egoisme. Rela untuk mempersilakan orang lain jalan lebih dahulu atau bersama-sama. Rela untuk tidak edan. Rela untuk mengutamakan kepentingan hidup bersama-sama dengan berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. *

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar