Minggu, 15 Februari 2009
Dana Pemilu
Oleh ANANG FADHILAH
Partai peserta Pemilu 2009 tampaknya mulai mematut-matut diri dan tentu saja semuanya ingin meraih simpati masyarakat guna mendulang suara. Berbagai cara dan upaya dilakukan, berbagai jurus ditebar. Ujung-ujungnya mencari simpati masyarakat calon pemilih. Its so far so good lah..
Jika ada yang mengatakan, menjelang pesta demokrasi baik itu saat pemilihan kepala daerah (pilkada), maupun pemilihan umum (pemilu). Tentu saja termasuk pemilihan presiden (pilpres). Ada ungkapan yang mengatakan, “Uang mengatur segalanya!”
Ungkapan itu tentu saja berkonotasi negatif. Artinya tidak peduli dari mana uang itu berasal. Persetan dengan dana haram sekalipun. Begitu kira-kira yang terkuak ketika membicarakan masalah uang dalam pemilu.
Catatan hitam itu tentu menjadi momok bagi partai politik peserta pemilu. Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar mengaku resah soal dana haram yang berseliweran di negeri ini. Untuk itu pada Selasa (17/6) malam, ia meminta Golkar memperkuat kemampuan finansialnya lewat jalan yang sah, baik, dan halal.
Pernyataan itu tentu saja melegakan. Walaupun muncul kecurigaan, jangan-jangan selama ini dana partai diperoleh dari uang haram. Terlepas dari soal itu, kita melihat ada semangat dari partai politik untuk membenahi diri. Semangat itu adalah, memenangkan pemilu dengan cara yang fair. Bukan menghalalkan pengunaan uang dengan cara apa pun.
Soal penggalangan dana untuk pemilu terus menjadi perdebatan sejak pemilu 1999 lalu. Namun semangat yang hendak dibangun mestinya tetap mengkritisi dana yang berasal dari luar negeri, mafia, cukong judi, dan bandar narkoba. Termasuk dana haram lainnya, seperti hasil korupsi. Contohnya, dana yang berasal dari kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).
Dana dari kasus BLBI ini sangat potensial disalahgunakan. Dan hingga kini pemerintah pun masih sulit untuk melacaknya, apalagi kasusnya sudah berlangsung selama satu dekade. Dalam soal ini kita mesti jelas dan tidak boleh abu-abu. Dana BLBI masuk kategori dana haram, karena dana itu bukan murni milik penyumbang. Dana itu adalah milik negara, milik rakyat negeri ini.
Kita mesti waspada, karena dengan berbagai cara para obligor atau koruptor BLBI akan berusaha menjadikan momentum pemilu sebagai ajang untuk pencucian uang. Caranya, apalagi kalau bukan dengan memberikan bantuan kepada partai politik atau kandidat presiden/wakil presiden.
Contohnya adalah fakta persidangan mengenai telepon pengusaha Artalyta Suryani dengan sejumlah petinggi Kejaksaan Agung. Drama yang memalukan itu diduga terkait suap dalam kasus BLBI. Dari situ koruptor bisa menyetir pejabat negara atau pimpinan partai politik. Sehingga jangan harap uang rakyat yang jumlahnya triliunan rupiah itu akan dikembalikan.
Begitu juga dengan dana bantuan asing. Dana ini tentu saja rawan disalahgunakan. Bukankah ada istilah, tidak ada makan siang gratis. Semuanya tentu ada timbal baliknya. Nah, di sinilah persoalannya. Bantuan asing bisa menjadi celah terjadinya intervensi terhadap kedaulatan negara. Kita tentu tidak ingin sebagai negara berdaulat menjadi negara boneka asing.
Dari persoalan itu, dana kampanye menjadi persoalan serius. Untuk itu Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus memiliki auditor independen, profesional dan bermoral untuk melacak asal usul dana kampanye. Dan kita harus mendorong agar KPU berani menyatakan dana itu halal atau haram berdasarkan pemeriksaan auditor. Bila terbukti haram, jangan pula sungkan untuk menjatuhkan sanksi. Bahkan kalau perlu menghentikan kampanye dan menganulir keputusan pemilu.
Harus diakui memang sulit untuk melacak apakah dana itu haram atau halal. Tapi jangan menjadi alasan untuk tidak melacaknya. Ada koridor yang bisa dilakukan sebagai acuan hukum. Salah satunya, melalui UU Pilpres yang mensyaratkan dana sumbangan tidak boleh mempunyai persoalan hukum. *
Penyakit Hati
Oleh ANANG FADHILAH
TERNYATA semua penyakit hati itu porosnya adalah hubudunya (cinta dunia). Jadi, jika kita bisa lolos dari sini, maka yang lain-lain bisa lolos. Cinta dunia cirinya di antaranya di dalam mencarinya tidak mempedulikan halal haram. Pontang-panting; raup sana-sini. Seperti air laut dunia ini. Makin punya makin menyedot terus terhadap dunia. Koruptor itu bukan orang-orang miskin, melainkan orang-orang yang sudah punya tapi menyedot terus.
Makin hina. Mereka sendiri tidak bisa menikmati. Serakah menyedotnya luar biasa.
Lalu kalau sudah dapat ia akan pamer (riya). Semuanya ingin bermerk. Dia sendiri sebetulnya lebih murah dari merknya. Itulah ciri-ciri pecinta dunia itu. Tentu saja bagi yang memiliki merk-merk yang bagus, tidak selalu berarti pecinta dunia, tapi kalau dirinya lebih rendah dari harga pulpennya itulah yang jelek.
Pecinta dunia bila sudah punya kemudian ingin bergaya hidup mewah glamour. Kalau belum dapat, ia pontang-panting, kalau sudah dapat ia ingin pertahankan. Kalau dia mempunyai kedudukan, ia kasak-kusuk supaya orang tidak menggoyang; capai. Kemudian, kalau belum dapat ia akan dengki. Kalau yang tidak kebagian akan merusak, merampok. Bangsa kita ini babak belur karena sudah materialistis pecinta dunia.
Lalu bagaimana solusinya. Rumusnya sederhana, disebut rumus petugas parkir. Lihatlah petugas parkir. Walaupun banyak mobil ia tidak pernah sombong. Biasa-biasa saja. Ganti-ganti mobil ia tidak takabur tidak ujub, rileks saja. Diambil sampai habis ia tidak sedih, apa sebabnya? Sebab dia tidak merasa memiliki, hanya merasa tertitipi. Ini rahasianya.
Kita menderita karena dunia ini merasa dimiliki dan memiliki seseorang. Jadi, kalau kita merasa punya kita, maka akan capai. Kalau kita belajar meyakini bahwa kita hanya mampir di dunia. Kita kerja keras untuk menjemput jatah kita; bukan punya kita. Kalau ada biasa-biasa saja. Semua juga titipan Allah yang sebentar. Dia rendah hati yang membuatnya lebih tinggi daripada pangkat dan kedudukannya. Jadilah ia mulia. Kalau misalkan tidak menjadi orang berada. Dia yakin bahwa sederhana milik Allah. Sama-sama menumpang.
Lihat orang lain tidak iri. Dia rejekinya dari Allah, orang lain rejekinya dari Allah, Suka-suka yang membagikan rejeki saja. Kenapa kita capai-capai memikirkan rejeki orang lain. Yang harus kita lakukan itu mensyukuri rejeki sendiri. Bukan capai memikirkan rejeki orang. Makin kita capai memikirkan rejeki orang lain, kita akan makin menderita. Ketika mencarinya tidak akan licik dan serakah. Untuk apa licik, rejeki itu dari Allah. Tidak usah pakai licik, pasti ketemu. Bedanya kalau kita licik jadi haram. Allah Pembagi rejeki, tidak usah memakai cara yang zolim untuk menjemputnya. Dia sudah memerintahkan kita bahwa mencari rejeki itu mencari karunia Allah dengan kejujuran. Kerja keras dengan hati ikhlas otak cerdas, tidak akan ke mana mana pasti bertemu dengan jatah kita. Tidak akan tertukar.
Kalau diambil oleh Allah, sesuka yang punya. Semuanya ada waktunya berakhir. Bagi kita, mau diambil atau tidak yang penting selama ada jadi pahala dengan mensyukurinya, dan jika diambil oleh Allah menjadi bersabar. Tidak ada ruginya. Orang itu menderita karena merasa memiliki dan merasa dimiliki. *
Kota Terkotor, Jadi Daerah Pariwisata
Oleh : ANANG FADHILAH
Upaya Dinas Pariwisata dan Budaya (Dispar) Kota Banjarmasin yang menggelar event budaya dan pariwisata, festival pasar terapung yang akan berlangsung 21-22 Juni 2008 di Banjarmasin. Diharapkan menjadi ‘angin segar’ guna menjadikan kota berjuluk ‘kota seribu sungai’ ini menjadi daerah tujuan pariwisata.
Persiapan itu dilakukan mengingat Dispar Kota Banjarmasin sebagai panitia penyelanggaraan festival pasar terapung, sementara Dinas Pariwisata dan Budaya (Dispar) Kalsel sebagai panitia festival yang digelar di darat, kata Kepala Dispar Kota Banjarmasin, Hesly Junianto di Banjarmasin, Kamis.
Untuk mensukseskan acara tersebut Dispar Kota Banjarmasin sudah melakukan koordinasi selain dengan Dispar Kalsel, juga dengan pihak Bank Indonesia (BI) Banjarmasin, yang terlibat juga dalam pendanaan kegiatan tersebut.
Selain itu melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian untuk menerjunkan polisi wisata, serta dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kalsel yang diharapkan pramuwisata berperan turut mensukseskan event tersebut.
Dalam hal ini Dispar Kota Banjarmasin telah melakukan pembekalan terhadap tenaga pramuwisata dan polisi wisata, dengan nara sumber seorang budayawan Kalsel, Drs Syamsiar Seman, kata Hesly.
Begitu juga koordinasi dengan pihak Asita Kalsel, serta kelompok atau komunitas kepariwisataan yang lain, mengingat event festival pasar terapung termasuk event kepariwsataan daerah yang diprogramkan pemerintah pusat dalam rangka Visit Indonesia Year (VIY) 2008.
Penyelenggaran Pasar terapung ini pula sebagai upaya mensukseskan visit Kalsel yang ditetapkan 2009, katanya.
Sosialisasi kegiatan festival pasar terapung itu jauh-jauh hari sudah dilakukan baik mnelalui media cetak maupun elektronik termasuk membagikan brosur kepada agen maupun biro perjalanan wisata yang berada di Kalsel serta promosi melalui jaringan internet.
Selain kegiatan di sungai dalam festival tersebut juga ada pula kegiatan yang diselenggarakan di darat.
Masyarakat dapat menikmati acara menarik seperti lomba permainan rakyat, wisata kuliner masakan daerah dan pagelaran seni dan budaya daerah, yang digelar di depan kantor Gubernur Kalsel.
Sedangkan di sungai ada tiga jenis jukung yang bakal dihiasi yakni jukung yang biasanya digunakan untuk angkutan sungai (taksi banyu), jukung yang digunakan untuk berjualan makanan dan minuman (rombong makanan dan perahu wadai) serta jukung yang biasanya digunakan untuk berdagang barang-barang kebutuhan lain seperti jukung sayuran dan jukung ikan
Kementrian Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal mencatat bahwa terdapat 139 daerah tertinggal (IDT) di Indonesia saat ini, kabupaten Pesisir Selatan menurut Bupati Nasrul Abit dalam lecturer series lustrum Fisip Unand ke 15 berada dalam urutan ke 139 daerah tertinggal tersebut. Sebagai sebuah daerah tertinggal, 2 tahun masa kepemimpinan beliau sebagai bupati di kabupaten terluas di Sumatera Barat ini diisi oleh upaya pengentasan kemiskinan.
Meskipun berbagai upaya dan pendekatan dilakukan seperti melalui Program Keluarga Harapan (KPH) yang telah melakukan renovasi sekitar 651 buah rumah penduduk yang tidak layak huni, tetapi hasil nyata dari program pengentasan kemiskinan tersebut tidak kelihatan. Salah satu persoalan yang dihadapi dalam program pengentasan kemiskinan tersebut menurutnya adalah terlalu banyaknya masyarakat yang mengaku miskin, dalam program pengentasan kemiskinan tersebut terdapat 5 kritieria kemiskinan diantaranya miskin, mendekati miskin, tidak miskin.
Untuk mengantisipasi hal tersebut maka bupati mengumpulkan sekitar 251 ustadz untuk memberi pengarahan kepada masyarakat bahwa pengakuan sebagai orang miskin tersebut sebagai sikap dan tingkahlaku tidak terpuji yang mengambil hak orang miskin sesungguhnya. Kegagalan untuk menghasilkan karya nyata program pengentasan kemiskinan tersebut mengalihkan program pengentasan kemiskinan yang mendorongnya sebagai orang pertama sebelum Kepala Daerah Tingkat II lainnya di Indonesia yang menolak gagasan Presiden pengentasan kemiskinan melalui Bantuan Tunai Langsung (BLT) kepada strategi pembangunan yang bisa menghasilkan efek berkelanjutan (multiflier effect) melalui pembangunan pariwisata.
Efek multiflier dari pembangunan pariwisata ini adalah melalui penciptaan berbagai bentuk kerajinan tangan sebagai industri rakyat yang dihasilkan oleh kedatangan para turis asing maupun lokal, kawasan Mandeh disamping berbagai pulau-pulau lainnya seperti pulau Cingkuak, Cubadak dijadikan resort internasional. Terdapat kawasan wisata laut yang memiliki iklim terbuka yang bebas didatangi oleh kebudayaan global serta kawasan wisata darat yang lebih banyak menjual assets budaya lokal kepada kepentingan turis asing manca negara, seperti tari kail dan beberapa kesenian lokal rakyat lainnya untuk ditempatkan sebagai bahagian event-event.paket wisata nasional dan internasional.
Beberapa event internasional yang dikemas dalam paket wisata tersebut diantaranya terbang layang di pantai Carocok, upaya Pemda untuk menjadikan pantai Painan sebagai kawasan wisata laut yang menghadirkan 2 buah kapal kaca tembus pandang yang bisa melihat melihat pemandangan bawah laut merupakan bentuk pemerintah untuk menghadirkan wisata bahari Bunaken Menado di Painan. Wisata alam yang dirancang oleh Pemda Pesisir Selatan saat ini sebagai promosi pariwisata yang muncul sejak kunjungan Presiden melihat potensi wisata Pesisir Selatan akibat gempa bumi Bengkulu 7,3 SR yang menghancurkan wilayah muko-muko sekitarnya merupakan bahagian pengembangan wisata Sumatera Barat sebagai 10 obyek wisata Indonesia, wisata alam ini kemudian dilanjutkan ke daerah Danau Kembar di Alahan Panjang yang kemudian dilanjutkan menjadi wisata budaya ke Batusangkar.
Upaya Pemerintah Pesisir Selatan untuk menjadikan daerah tersebut tidak hanya sebagai kawasan wisata alam tetapi juga kawasan wisata budaya dapat dilihat dari upaya pemerintah untuk melakukan renovasi rumah mande Rubiah di Lunang, Silaut, mande Rubiah dianggab sebagai simbol identitas masyarakat Pesisir Selatan sebagai bahagian dari Kerajaan Pagaruyung. Namun penolakan mande Rubiah terhadap tawaran Pemerintah Daerah untuk menjadikan rumah tersebut sebagai cagar budaya merupakan salah satu hambatan pengembangan wisata budaya ini. Pengembangan wisata budaya ini merupakan bentuk pariwisata khas Sumatera Barat yang tidak bersifat all in (terbuka) dari semua nilai.
Koordinasi dengan beberapa kabupaten tetangga yang terkait dengan dengan pengembangan wisata tersebut dilakukan oleh pemerintah Pesisir Selatan melalui pembangunan jalan yang menghubungkan daerah terpencil dari Painan ke Padang dan Painan ke Solok, hambatan koordinasi tersebut sebagaimna yang dijelaskan oleh Bupati berada dari kurang responnya pemerintah daerah kabupaten tetangga terhadap gagasan ini, seperti langkah pembuatan jalan baru dari sungai pisang yang sudah rampung dilakukan sampai ke Sungai Pinang. Tetapi tidak ada kelanjutna dari Pemko Padang untuk melanjutkan pembangunan jalan dari Sungai Pinang tersebut ke Padang sebagai bentuk komitmen bersama antara Pemko Padang dengan Pemda Pesisir Selatan.
Koordinasi antara beberapa kabupaten yang terkait dengan pengembangan obyek wisata sebagai assets komoditi jasa industri Sumatera Barat merupakan salah satu bentuk hambatan Visit The Indonesian Year yang dicanangkan pemerintah, keberhasilan prmosi wisata ini dapat dilihat dari kemampuan pemerintah Malaysia yang mampu mendatangkan wisatawan mancanegara melebih jumlah penduduknya melalui atribut-atribut “The Truly Asia” dengan mengadopsi budaya asing yang diklaim sebagai budaya lokal negara tersebut. Koordinasi antara pemerintah dengan stake holders yang terkait dengan pengembangan jasa pariwisata, seperti pemilik hotel dan restoran merupakan bentuk kebijaksanaan pengembangan wisata terpadu (integrated) yang menghasilkan efek multiflier terhadap pengembangan industri kerajinan rakyat dan sektor perekonomian rakyat lainnya. (***)
Sabtu, 14 Februari 2009
Buah Tangan
Ya, pemilihan umum 2009 tinggal hitungan hari. Pesta demokrasi 2009 merupakan pemilu paling rumit dan mahal, akibat masih adanya kekurangan dalam aturan yang berpotensi menimbulkan biaya tinggi. Pasalnya, dari aturan-aturan perundang-undangan tentang pemilu legislatif, penyelenggaraan pemilu akan lebih rumit. Hal ini berdampak membengkaknya anggaran,
Salah satu aturan yang diragukan efektivitasnya, soal perubahan pencoblosan dengan cara mencontreng nama calon anggota legislatif (caleg) oleh pemilih. Untuk mencontreng dibutuhjan sosialisasi yang benar. Karena, jika tanpa sosialisasi yang benar kepada masyarakat, terutama yang berada di perdesaan yang sudah terbiasa memilih pemimpinnya dengan cara mencoblos. Jika sosialisasi tidak tepat maka tentunya mereka akan melanjutkan kebiasaan mereka itu. Apalagi tugas sosialisasi tidak lagi berada di tangan komisi pemilihan umum daerah (KPUD) namun pada pemerintah daerah masing-masing, ini menjadi semakin sulit.
Hal lainnya, mengenai kertas suara yang besar dengan seluruh nama-nama caleg juga tidak akan efektif. Ini karena masih banyak masyarakat Indonesia yang buta huruf.
Jadi surat suara yang besar yang lengkap dengan tanda gambar parpol dan nama caleg itu tidak akan efektif. Mereka yang buta huruf pada akhirnya hanya akan memilih tanda gambar saja.
Dari beberapa persoalan tersebut, penulis meyakini praktik-praktik lama kecurangan pemilu masih tetap akan berlangsung pada Pemilu 2009 mendatang. Ironisnya, masyarakat yang buta huruf pasti akan didatangi oleh tim sukses anggota-anggota dan diberikan serta diiming-imingi ini-itu, tentunya mereka akan memilih orang yang diinginkan tim sukses tersebut. Masyarakat pemilih akan lebih mudah diarahkan.
Kondisi masyarakat yang sebagian besar juga masih hidup di bawah garis kemiskinan, di mana mereka bekerja hari ini untuk dikonsumsi hari ini, juga tidak akan menggerakkan masyarakat miskin itu untuk pergi ke tempat pemungutan suara (TPS). Mereka tentunya lebih memilih bekerja dari pada datang ke TPS, karena jika mereka tidak bekerja tentu mereka tidak akan makan.
Ini bisa dimanfaatkan oleh tim sukses yang mengiming-imingi uang agar mereka mau datang ke TPS tanpa harus bekerja namun dengan syarat memilih orang yang diinginkan. Kondisi ini juga diperparah oleh opini yang berkembang di masyarakat miskin pada umumnya bahwa nasib mereka tetap tidak akan berubah dengan memilih pemimpin tertentu. Jadi mereka pragmatis saja memilih kepada siapa yang membayar.
Oleh karena itu, bagi para caleg perlu dipertimbangkan untuk mengeluarkan banyak uang jika hasilnya juga tidak jelas, seperti mencetak poster, baliho dan baju si calon. Jika itu harga sebuah demokrasi, akan percuma bagi caleg dengan kondisi ini membuat baliho yang besar-besar. Yang akan efektif justru dengan mendatangi tokoh-tokoh masyarakat agar mau mempengaruhi masyarakat disekelilingnya. Celakanya, sang tokoh minta ‘buah tangan’ (baca: fulus) karena terbiasa dengan pola seperti ini. Jadi siapa yang salah jika masyarakat menjadi begitu materialistis? Seperti bait sebuah lagu, ada uang abang disayang, tak ada uang caleg ditendang. Lho kok! *
Kedermawanan Yang Semu

Pemilu 2009, tinggal 65 hari lagi. Ratusan caleg baik DPRD, DPR dan DPD di banua ini tampak begitu antusias dan bersemangat. Banyak pelajaran dipetik, para caleg berubah menjadi begitu sangat dekat dengan masyarakat, ramah tamah, murah senyum, bersahabat dan begitu dermawan. Ini sebuah kabar gembira tentunya, tapi harapan kita ‘aksi para caleg’ bukan lantaran mendekati pemilu. Tapi its okey-lah. Show must go on-lah.
Menyangkut soal kedermawanan, kisah berikut ini mungkin bisa dijadikan bahan renungan bersama. Suatu ketika Rasulullah menatap satu persatu para sahabat yang sedang berkumpul dalam majelis, hening dan tawadlu. “Ya Rasulullah”, ujar salah seorang hadirin memecahkan keheningan. “Bila pertanyaanku ini tidak menimbulkan kemarahan bagi Allah, sudilah engkau menjawabnya”. “Apa yang hendak engkau tanyakan itu”, tanya Rasulullah dengan nada suara yang begitu lembut.
Dengan sikap yang agak tegang si sahabat itupun langsung bertanya: “Siapakah diantara kami yang akan menjadi ahli surga?” Tiba-tiba, bagai petir menyambar, jiwa-jiwa yang tadinya tawadlu, nyaris menjadi luka karena murka. Pertanyaan yang sungguh keterlaluan, setengah sahabat menilainya mengandung ujub (bangga atas diri sendiri) atau riya’. Adalah Umar bin Khattab yang sudah terlebih dahulu bereaksi, bangkit untuk menghardik si penanya. Untunglah Rasulullah menoleh ke arahnya sambil memberi isyarat untuk menahan diri.
Rasulullah menatap ramah, beliau dengan tenangnya menjawab: “Engkau lihatlah ke pintu, sebentar lagi orangnya akan muncul”. Lalu setiap pasang matapun menoleh ke ambang pintu, dan setiap hati bertanya-tanya, siapa gerangan orang hebat yang disebut Rasulullah ahli surga itu. Sesaat berlalu dan orang yang mereka tunggupun muncul. Namun manakala orang itu mengucapkan salam kemudian menggabungkan diri ke dalam majelis, keheranan mereka semakin bertambah. Jawaban Rasulullah rasanya tidak sesuai dengan logika mereka.
Sosok tubuh itu tidak lebih dari seorang pemuda sederhana yang tidak pernah tampil di permukaan. Ia adalah sepenggal wajah yang tidak pernah mengangkat kepala bila tidak ditanya dan tidak pernah membuka suara bila tidak diminta. Ia bukan pula termasuk dalam daftar sahabat dekat Rasulullah. Apa kehebatan pemuda ini? Setiap hati menunggu penjelasan Rasulullah. Menghadapi kebisuan ini, Rasulullah bersabda:
“Setiap gerak-gerik dan langkah perbuatannya hanya ia ikhlaskan semata-mata mengharapkan ridla Allah. Itulah yang membuat Allah menyukainya”.
Betapa tinggi nilai ikhlas dalam amal perbuatan seseorang, sampai Rasulullah menyebutkan sebagai salah satu syarat ahli surga. Posisi ikhlas dalam Islam memang sangat penting, karena ikhlas dianggap sebagai ukuran amal seseorang. Allah SWT berfirman: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (Al Bayyinah: 5)
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan ? (An-Nisa’: 125)
Ini kisah lain lagi, seharusnya Indonesia boleh dianggap negara miskin dan bangkrut. Tapi soal kedermawanan, negeri ini seperti punya lumbung derma yang tak ada habisnya. Adegan berikut barangkali akan menggambarkan fakta tersebut.Di sebuah warung soto, seorang dari serombongan pembeli, bergegas menuju kasir untuk mentraktir semuanya. Makanan belum sempat ngendon sempurna di perut, tapi orang ini sudah merasa harus buru-buru menunaikan tugas mulia itu. Tapi dermawan ini malah cuma dianggap nyolong start belaka. Karena seorang yang lain, sambil masih tetap di mejanya, segera berteriak mengancam si kasir. ''Duitnya jangan diterima. Awas!''
Keributan pun terjadi. Saling ngotot, saling tak mau kalah, sampai akhirnya si kasir muncul sebagai penengah. Keduanya kalah. Apa sebab? Karena betapapun cepat dua dermawan itu berpacu ternyata masih kalah cepat dari seorang yang lain lagi, seorang yang diam, tenang tapi efesien. Ia memainkan taktik yang tak terduga. Sebelum adegan makan berlangsung, ia diam-diam telah menyelinap lebih dulu, menyerahkan segepok uang. ''Ini deposit. Untuk bayaran nanti,'' katanya. Gampang ditebak, dialah pemenangnya.
Dengan tingkat kedermawanan sedemikian rupa, adalah aneh jika Indonesia mengalami tingkat kesenjangan sosial yang parah, tingkat kemiskinan yang menyedihkan, dan tingkat korupsi yang mencengangkan.
Tapi semua sifat mulia toh cuma sentuhan human interset belaka. Selebihnya bandit itu tetap bandit yang gampang membunuh orang segampang ia meludah. Selebihnya, tukang selingkuh itu tetap memilih menggauli selingkuhannya katimbang kembali ke rumah menyantuni anak istrinya. Bahwa semua orang di dalam hatinya mengaku punya kemuliaan, adalah benar dan boleh-boleh saja. Tapi bahwa kemuliaan itu tak pernah benar-benar dipraktekkan, di situlah letak persoalannya.
Melihat betapa begini banyak sikap dermawan yang secara aneh bisa hidup berdampingan dengan banyaknya kerusakan, mudah kita simpulkan bahwa bakat berderma itu belum sanggup menjadi aset negara, belum sanggup menjadi kontributor kesejahteraan bersama. Maka jangan buru-buru menyimpulkan jika kita gemar mentraktir orang, mengaspal jalan dan berderma untuk kegiatan amal, membuktikan bahwa kita adalah seorang yang mulia.
Sekarang marilah kita ber-muhasabah dan menilai diri kita sendiri, Sudahkah kita ikhlas dalam setiap amal perbuatan kita ? Sekali lagi sebelum terlambat segala sesuatunya, sebelum datang keputusan akhir dari Allah kepada kita, dan sebelum akhirnya kita dihisab oleh Allah, marilah kita menghisab diri dan hati kita. Kita berharap sikap dermawan jangan semu belaka. *
www.barito-post.com
Kehabisan ‘Peluru’
Itu soal ongkos buat baleho, ongkos pemasangan baleho lebih gawat lagi—karena setiap titik konon sudah dikuasai para preman ‘dadakan’—maklum para preman ini memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Gak peduli caleg ‘kere’maupun caleg ‘baiwak’. Semuanya dimintai pajak pemasangan plus ongkos jaga malam yang rata dipungut Rp50-Rp100 ribu/titik. Tapi its oke lah, semuanya lancar-lancar saja, karena ada kesepakatan yang tak tertulis. Sebab jika ada caleg yang tanpa permisi memasang baleho, sudah dipastikan diganggu balehonya. Bisa-bisa gambarnya dirobek dan dirobohkan.
Soal dana promosi caleg, ini ada cerita dari salah satu rekan yang dipercaya sebuah partai menjadi caleg. Rekan tadi bercerita, dalam proses pengenalan dirinya kepada masyarakat—maklum setelah ada putusan MK dengan suara terbanyak banyak caleg begitu bersemangat.
Selama hampir 4 bulan, rekan tadi sudah menghabiskan biaya hampir Rp200 juta. Ini bukan angka kecil, pikirku. Uang ratusan juta hanya untuk proses pengenalan diri seorang caleg. Fantastis sekali. Tak bisa dipingkiri, seseorang yang maju menjadi caleg harus mempersiapkan segala hal dengan baik, ya dana ya semuanya. Memang harus diakui, keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan suara terbanyak cukup merepotkan caleg. Apalagi dengan suara terbanyak, kita harus jor-joran, ya sosialisasi, ya atribut, ya kontak dengan masyarakat.
Perjuangan caleg di Pemilu 2009 semakin berat, tidak hanya bertarung dengan
caleg partai lain tapi mereka juga bertarung dalam "selimut"—teman satu partai. Nah lo. Masa kampanye yang tinggal tersisa sekitar 2 bulan lagi membuat tak sedikit caleg kehabisan dana untuk memodali kampanyenya. Kalau sudah begini, modal sudah habis, pikiran dan tenaga sudah terkuras. Saran seorang kiai, rajin-rajinlah berdoa meminta kepada pemilik hidup, pemilik kekuasaan. Allah swt. Dalam kondisi seperti ini, kita perlu meluruskan jalan pikiran dan cara berpikir agar hidup bahagia tanpa diliputi rasa kekecewaan, kegelisahan, dan kesusahan. Meski nanti kalah dan tak didukung rakyat.
Menurut hemat penulis, supaya kita dapat meraih hikmah maka perangi dan tundukkan syahwat kita dan jangan terlalu berlebihan. Dalam hal ini Allah berfirman dalam surat An-Nazi`at:40,"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya". Diceritakan dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi saw. bersabda: "saya peringatkan umatku terhadap sesuatu yang saya takuti, yaitu mengikuti hawa nafsu dan terlalu berangan-angan. Mengingat hawa nafsu akan menjauhkan diri dari kebenaran, sedangkan terlalu berangan-angan akan melupakan akhirat. Kemudian katakanlah, sesungguhnya mencegah hawa nafsu adalah fondasi ibadah".
Nafsu adalah cinta dalam arti negatif, dan sikap berlebihan dalam mencintai diri. Sifat nafsu adalah selalu berusaha menjadikan diri menentang petunjuk akal dan berjalan di jalan yang dipenuhi syahwat. Salah satu tabiat manusia adalah mencintai dirinya. Namun, cinta manusia kepada dirinya harus berlangsung wajar dan tidak berlebihan. Manakala manusia berlebihan dalam mencintai dirinya maka dia akan menjadi orang yang egois. Manakala dia menjadi orang yang egois maka dia akan melakukan apa saja yang akan menyenangkan dirinya, tanpa memperhatikan lagi pengawasan dari Allah SWT, dan juga tanpa memperhatikan lagi manusia di sekelilingnya, dengan memberikan hak-hak mereka dan bergaul secara baik dengan mereka. Kalau hawa nafsu adalah musuh akal dan hikmah, maka syarat pertama dalam melakukan perbaikan diri dan menjadikannya berjalan di bawah petunjuk akal adalah menentang dan tidak tunduk lepada nafsu. Maka dalam hidup jangan suka berlebihan, jangan memaksakan diri. Ukur diri. Meski kehabisan peluru jangan sampai melupakan Tuhan. Kita tak ingin usai Pemilu 2009 banyak yang stress, depresi—karena kalah dalam memikat hati rakyat. Wallaahu a`lam bishawab. *
www.barito-post.com
Panas Dingin

Pesta Demokrasi atau Pemilu 2009 tinggal 56 hari lagi, kita semua tentu berharap rakyat bisa menentukan pilihannya dengan cerdas. Bila kita runut, ada dua kecenderungan perilaku memilih pasca runtuhnya pemerintahan Soeharto. Pertama adalah perilaku memilih yang bercorak suka. Perilaku demikian mengemuka pada Pemilu 1999. Para pemilih memiliki kecenderungan secara sukarela mendukung partai-partai yang didukungnya agar bisa memperoleh kemenangan dalam Pemilu 1999 saat itu.
Tidak hanya dukungan suara, para pemilih itu juga secara aktif memberikan sumbangan material kepada partai-partai kesayangannya. Para pemilih tersebut, misalnya, aktif membiayai berdirinya posko, kampanye, kaus, pemasangan baliho, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Singkat cerita, jalinan antara pemilih dan partai cukup kuat.
Kedua adalah perilaku pemilih yang bercorak traksaksional material. Gejala tersebut mulai mengemuka pada Pemilu 2004. Di antara pemilih, para pemilih tidak lagi secara suka mendukung partai. Mereka ikut mendukung, asalkan terdapat imbalan terhadap dukungan yang diberikan itu. Misalnya, mereka mau berkampanye, asalkan mendapatkan uang transpor, memperoleh kaus, dan imbalan-imbalan matarial lainnya.
Paling tidak, terdapat sejumlah kondisi yang memunculkan fenomena kedua itu. Kondisi yang pertama berkaitan dengan kesadaran para pemilih bahwa politisi yang pada akhirnya memperoleh kekuasaan atas dukungan yang mereka berikan tersebut telah menikmati kekuasaan yang berdurasi cukup lama.
Para pemilih itu lantas berpikir, ‘Kalau politisi boleh menikmati kekuasaan selama lima tahun, mengapa kita tidak boleh menikmati sebagian dari hasil kekuasaan itu?”
Kondisi yang lain berkaitan dengan kemampuan politisi. Setelah lima tahun menikmati kekuasaan, paling tidak, mereka memiliki modal material yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Kini, mereka bisa membiayai proses perolehan dukungan yang sebelumnya bercorak sukarela itu. Di pihak lain, pada Pemilu 2004, juga ditemui politisi baru yang rela mengeluarkan materi, asalkan terpilih. Konon, dalam suatu dapil, ada calon yang rela mengeluarkan Rp 1,5 miliar agar memperoleh kursi di DPR.
Perilaku traksaksional itu memang bukan sesuatu yang baru. Dalam banyak kasus pemilihan kepala desa, perilaku demikian sudah lama ditemui. Para calon, misalnya, membagikan sarung atau materi yang lain dengan harapan bisa terpilih. Tradisi demikian sudah lama terjadi dan lebih mengemuka belakangan. Tidaklah mengherankan, ada orang yang sampai menghabiskan Rp 1 miliar hanya untuk kursi jabatan kepala desa.
Meski demikian, yang terjadi belakangan, fenomena perilaku memilih yang bercorak traksaksional itu sungguh sangat mengkhawatirkan. Dalam penelitian seorang kawan, pada sejumlah pilkada pada 2005, pemilih yang menentukan -atau berubah- pilihannya karena materi hanya sekitar 10 persen. Belakangan, jumlah pemilih yang menentukan pilihannya karena materi semakin besar.
Di sisi yang lain, calon juga terjebak dalam suasana transaksional seperti itu. Dalam banyak kasus, calon datang ke tokoh-tokoh mayarakat, bahkan ormas, untuk melakukan traksaksi agar mendukungnya. Juga ada tim sukses yang langsung memberikan "sesuatu" kepada calon pemilih, baik berupa barang maupun uang. Alasan pembungkusnya bermacam-macam, seperti sebagai sedekah, zakat, dan alasan-alasan lain.
Tetapi, di balik itu semua, terdapat keinginan agar orang-orang yang memperoleh materi tersebut memilih calon itu.
Demokrasi memang tidak bisa dilepaskan dari transaksi, antara yang memilih dan yang dipilih. Tetapi, di dalam demokrasi yang sehat, transaksi itu tidak berwujud material yang diberikan kepada pribadi-pribadi (private), melainkan kepada masyarakat umum (public).
Konsekuensi semua itu, sifat kekuasaan cenderung bercorak oligarkis. Dalam model demikian, kekuasaan lebih banyak dinikmati sekelompok kecil orang saja.
Tetapi, kalau pilkada langsung itu hanya memproduksi kekuasan yang bercorak oligarkis, alikasi dan distribusi sumber-sumber daerah hanya akan lebih banyak menguntungkan sekelompok kecil orang tertentu saja. Situasi seperti itu bisa berubah manakala perilaku transaksi material tersebut berubah menjadi traksasi kebijakan. Para pemilih menentukan pilihannya bukan karena para calon telah memberikan imbalan material, melainkan mampu memberikan imbalan berupa kebijakan publik yang menguntungkan.
Selain itu, perlu ada desain ulang pilkada secara langsung untuk meminimalisasi biaya tinggi dan berlangsungnya praktik transaksi material. Misalnya, perlu ada pembatasan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh semua caleg dan adanya sanksi yang berat kepada pelaku money politics. Jadi caleg bisa panas dingin, setuju?
www.Barito-Post.com
